Hobby

Jas Putih di Arena Sirkuit

Siapa bilang profesi ber-jas putih itu hari-harinya selalu berada di ruang praktik? Hal ini tidak berlaku bagi satu ini yang sekarang berpraktik sebagai PNS di RSUD I.A Moesi Samarinda. Drg. Yustika Chrysandra, merupakan seorang alumni FKG Universitas Gadjah Mada yang sudah bertahun-tahun menggeluti dunia motorsport dan familiar dengan arena sirkuit.

“Dari dulu memang saya pakai motor untuk kendaraan waktu sekolah. Saya sampai cinta banget sama motor setelah coba ikut Drag Race lokal di sekitaran Jogja-Solo. Sama orang tua dulu belum dibolehkan bawa motorsport, akhirnya cuma dikasih motor jenis bebek super (Sonic),” akunya kepada Dental&Dental.

Dari kecintaannya itulah yang membuatnya mantab berada dalam hobi yang jarang digandrungi seorang wanita ini. Larangan dari orang tua untuk berada di dunia motorsport bukan menjadi penghalang bagi drg. Yustika dalam meneruskan hobinya ini. Terbukti dari perjuangannya untuk mengumpulkan biaya pada saat sudah bekerja untuk membeli sendiri motor kesayangan untuk pertama kalinya dengan jenis CBR 250cc.

“Simpel sih, dari dulu saya suka banget sama MotoGP dan memang dari dulu pengen banget punya motorsport itu. Jadi begitu bisa beli barang, itu yang pertama kali saya beli,” lanjutnya sambil tertawa.

Hobi balapan yang sudah ia mulai sejak kelas 3 SMP ini memberinya motivasi untuk terus berkembang menjadi dengan level yang lebih tinggi dan mulai mengembangkan diri mengikuti tim racing.

“Saya balapan sudah dari kelas 3 SMP, tapi dulu cuma main drag race kelas Bebek 2 tak aja. Nah, setelah kenal motorsport ini baru beralih ke Road Race yang kelas 150 dan 250 motorsport.”

Kalimantan Timur merupakan daerah yang bersejarah bagi drg. Yustika karena disitulah ia pertama kalinya mengikuti racing kelas motorsport yang bernama Leles Racing Team. Kemudian pengalamannya juga dilengkapi dengan kesempatannya mengikuti racing di sirkuit Sentul ketika ada D’Event Seri 4 Kelas Motorsport. Pengalaman inilah yang memberikan kesan bagi drg. Yustika hingga sekarang.

“Yang paling berkesan ya yang kompetisi D’Event Seri 4 Kelas Motorsport di Sentul itu karena pesertanya kan seluruh Indonesia dan yang perempuan hanya 2 orang termasuk saya. Saya finish di posisi ke 5 dari 22 peserta.” Jelas dokter gigi kelahiran 23 Juli 1990 ini.

Dokter gigi pembalap penggemar Dani Pedrosa ini tidak hanya latihan bersama motor dan selalu berada di arena balap. Seorang pembalap juga harus melatih fisik yang dana mendukung stamina ketika ketika di arena balapan. Menurutnya, kendala seorang pembalap salah satunya adalah masalah ketahanan fisik yang harus kuat. Ia mengatakan bahwa seorang pembalap itu akan membawa motor seberat kurang lebih 160 kg, jadi harus sering latihan fisik untuk mengimbangi rider laki-laki lawannya.

Sebagai pembalap yang profesional dengan tidak mengesampingkan kewajiban pelayannya sebagai dokter gigi, drg. Yustika pun mengimbanginya dengan membagi waktu antara berpraktik dan latihan.

“Saya khususkan untuk latihan di hari Sabtu dan Minggu pagi aja. Kalau praktik rumah sakit kan hanya Senin sampai Jumat. Minimal 2 minggu sekali saya latihan. Untungnya sih di Samarinda ada Sirkuit, Sirkuit Kalan namanya, jadi bisa optimalkan skill riding dan motornya.”

Passion, itulah yang mungkin cocok untuk menggabungkan profesi dan hobi dari drg. Yustika ini. Mencintai profesi seperti mencintai hobinya, begitu pula sebaliknya. Ketertarikannya untuk masuk di FKG pun juga didasari rasa senangnya terhadap rasa seni yang ada pada dirinya.

“Awalnya tertarik masuk di FKG dulu gara-gara teman kakak saya yang juga ambil kuliah di FKG dan dia menceritakan kalau di FKG itu banyak pekerjaan tangan yang berhubungan dengan seni gitu. Jadi setelah lulus SMA, saya langsung ikut ujian masuk di FKG UGM.”

Tekun dalam profesi namun juga tidak lupa untuk mengembangkan hobi memang tidak mudah. Namun jika berhasil menyeimbangkan keduanya, maka kita akan menjadi seseorang yang luar biasa dan profesional. Selamat mengembangkan diri!