/Dokter Gigi Ganteng Dengan Segudang Aktivitas

Dokter Gigi Ganteng Dengan Segudang Aktivitas

 

 

Muda, berbakat dan mempunyai aktivitas segudang menjadi salah satu hal yang dianggap biasa oleh dokter gigi yang satu ini. Mempunyai wajah yang tampan membuatnya terpilih menjadi bintang iklan dan bahkan presenter di stasiun televisi. Tidak mudah bagi seorang dokter gigi menjalani aktivitas yang begitu banyak, mulai dari praktik, mengajar kuliah juga mengisi acara di dunia hiburan yang terkenal dengan waktunya yang tidak toleran, kadang pagi, sore, malam atau bahkan dini hari. Dokter gigi berbakat ini tetap mencintai semua profesi yang sudah membuatnya sukses itu.

Sosok drg. Andi Wirahadikusuma, Sp.Pros akan bercerita banyak terkait pengalamannya dari awal hingga akhir, dan berikut wawancara Majalah Dental&Dental:

Nama dokter?

Saya drg. Andi Wirahadikusuma

Bisa ceritakan perjalanan karir dokter?

Saya kuliah di Kedokteran Gigi Universitas Trisakti tahun 1998. Kalau boleh cerita, pertama kali kuliah di saat terjadinya demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan di Jakarta. Trisakti waktu itu (ada) penembakan, dan saat itu saya baru mendaftar menjadi mahasiswa, dan dahulu saya mendaftar di jurusan Tehnik, bukan di Kedokteran Gigi. Lucunya, di gelombang satu dan karena kerusuhan di Universitas Trisakti semua calon mahasiswa yang mendaftar diterima, dan saya masuk di  Fakultas Teknik Komputer pada saat itu. Saat suasana di Jakarta sudah mulai tenang, kemudian saya berpikir, dan merasa kepingin untuk kuliah di kedokteran gigi. Dan setelah berkonsultasi, curhat dengan keluarga, maka saya memutuskan untuk pindah jurusan di kedokteran gigi di gelombang dua, dan alhamdulilah diterima di Kedokteran Gigi Universitas Trisakti dengan melalui tes.

Saya dengar dokter pernah menjadi asisten dosen?

Ya saya pernah menjadi asisten dosen di tahun 2002, mungkin karena prestasi dan IPK saya bagus, maka diminta untuk menjadi asisten dosen di pratikum. Dan saat menjadi asisten dosen, saya belum lulus masih status mahasiswa, dan kebetulan memang saat itu ada dokter senior yang mencari asisten dosen yang laki-laki, maka saya kemudian tertarik.

Setelah menyelesaikan kuliah, dokter melanjutkan sekolah di mana?

Saya lulus di tahun awal Januari 2004, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah mengambil spesialis Orto. Sudah ambil formulir di Universitas Indonesia saat itu, namun tidak lama setelah saya memutuskan sekolah lagi, ada dosen senior yaitu dokter Indra Setiabudi meminta saya untuk menjadi dosen di Trisakti, dokter Indra bilang “Kamu jadi dosen aja, kita lagi butuh dan harus laki”, dan saya saat itu mengatakan kalau ingin sekolah lagi di spesialis Orto, namun kembali lagi saya tetap diminta untuk menjadi dosen, dan diberikan tawaran akan disekolahkan lagi jika saya masuk menjadi dosen di Trisakti. Dan keinginan saya sekolah spesialis Orto kini berubah ke spesialis Prosto karena harus sesuai dengan apa yang saya ajarkan di kampus Trisakti. Keinginan untuk sekolah lagi pun tercapai dan itu diberikan oleh Trisakti.

Saat menjadi dosen di Trisakti, ada suka dukanya?

Saat itu status saya belum menjadi dosen tetap, dengan bayaran yang masih minim sekali, namun karena masih single/bujang jadi saya nikmati saja menjadi dosen. Dua tahun hingga empat tahun saya kemudian diangkat menjadi dosen tetap hingga sekarang, dan saya menikmati kerja menjadi dosen. Di tahun 2008 saya disekolahkan dan ada kesempatan dengan beasiswa penuh yang diberikan oleh UI (Universitas Indonesia). Dan di sana saya suka sekali karena dapat ilmu baru, teman-teman baru, dan pengalaman yang sangat menginspirasi. Alhamdulillah dapat beasiswa penuh semua ditanggung fakultas, dan saat itu untuk praktik sedikit susah karena waktu yang tersita dengan kuliah. Di tahun yang sama saya menikah dan tidak lama saya dikaruniai anak, nah di situ adalah momen dimana antara waktu kuliah dan keluarga memang benar-benar menjadi tantangan, terutama biaya hidup yang masih terpontang-panting, namun alhamudillah semua bisa dijalani.

Saya dengar dokter sempat menjadi model dan bintang iklan?

Pada tahun 2010 saat waktu untuk praktik susah, alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk di luar praktik. Pada saat itu, ada salah satu agency menawarkan pekerjaan ke saya untuk menjadi model dalam bintang iklan sebuah bank. Nah, saat itu sama sekali tidak kepikiran bakal menerima pekerjaan itu, takutnya tawaran itu bohong atau hanya ingin meminta sejumlah uang. Dari rasa tidak percaya dengan tawaran itu, saya berusaha mencari tahu terkait nama agency yang menawarkan pekerjaan itu ke saya. Setelah saya tanya-tanya ke beberapa teman, ada salah satu teman yang pernah bekerja sama dengan agency tersebut, dan dengan keyakinan saya, tawaran tersebut akhirnya saya terima dan saat itu ada 10 orang yang menjadi pesaing saya untuk model iklan tersebut. Dalam benak saya karena belum ada pengalaman, mungkin gak bakal diterima, tapi ternyata dari agency sangat serius dan menceritakan saya termasuk dalam 2 nominasi dan diundang untuk photoshoot, dan akhirnya saya yang diterima dan itu menjadi pertama kali saya terjun di dunia model. Ada kebanggaan juga menjadi model, karena billboard-nya gede dipajang di dekat Fakultas. Dimulai dari situlah kemudian banyak tawaran untuk menjadi bintang iklan di televisi dan bahkan presenter tv. Di tahun 2015 saya dikontrak oleh Pepsodent untuk menjadi brand ambasador dan sebagai konsultan di ask the dentist (web yang dimiliki oleh Pepsodent). Di tahun 2016 saat acara dr Oz Indonesia, yang saat itu hostnya adalah dr. Rian Tamrin, dan saat itu dr. Rian Tamrin tidak melanjutkan acara itu lagi, maka saya diminta untuk casting, di-interview maka saya diminta menjadi bintang tamu, dan mulai agustus 2016 saya menjadi co host Dr Oz Indonesia. Menikmati pekerjaan menjadi model iklan merupakan salah satu pekerjaan yang saya tekuni hingga sekarang.

Dari dunia model dan presenter hingga dosen sudah dijalani, nah untuk praktik dimulai sejak tahun berapa?

Dahulu saya masih ikut dengan orang, dan belum buka praktik sendiri. Sampai akhirnya saya bergabung dengan Royal Smile Dental bersama teman-teman di tahun 2016.

Suka duka menjadi dokter gigi?

Kalau saya memang merasakan semua dari mulai dosen, model, dan dokter gigi, dan pasti setiap pekerjaan yang kita jalani mempunyai suka dukanya. Dokter gigi pasti suka jika melihat pasien yang datang ke kita, senang dengan karya seni kita. Kalau mengajar kuliah, sukanya yang pasti jika kita bikin orang dari tidak tahu menjadi tahu dan pinter tentunya bangga juga, sedangkan untuk model pastinya sukanya kita bertemu dengan lingkungan baru, bertemu dengan temen-temen di media yang pastinya jadi host itu seperti apa kita tahu semua, kadang dari proses syuting itu kadang kita mendapatkan pasien dari situ dan bahkan selebritis juga menjadi teman dan bahkan pasien saya.

Menurut dokter, banyak masyarakat yang kurang paham akan bahayanya ke tukang gigi, sebagai dokter gigi menurut dokter bagaimana terkait hal tersebut?

Saya di Pepsodent pernah membahas terkait tukang gigi dalam acara talk show, ini menjadi sebuah diskusi yang menarik. Tukang gigi sekarang ini, kadang-kadang sudah melewati kompetensinya, dan saya tidak bilang tukang gigi tidak boleh mencari rejekinya, dan terkadang ada komentar yang bilang kalau dokter gigi ketakutan lahan pekerjaannya diambil oleh tukang gigi, padahal tidak itu yang dimaksudkan. Melewati kompetensinya di antaranya banyak tukang gigi yang sudah menerima pemasangan kawat gigi, sudah mulai nambal, sekarang sudah mulai bikin veneer, dan itulah yang sebenarnya yang melebihi kompetensinya. Tukang gigi boleh mencari rejeki hanya sebagai pembuat gigi palsu dan tentunya standar pekerjaannya higienis, dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak jarang sejumlah pasien saya yang datang mengeluh karena gigi palsu yang kualitasnya jelek dan itu yang bisa menjadi masalah di kemudian hari. Jadi menurut pendapat saya, sebaiknya berkunjung ke dokter gigi, dan sebaiknya dokter gigi dan tukang gigi bekerja sama dengan dokter gigi. Istilahnya dokter gigi itu insinyurnya, dan tukang gigi itu tukangnya atau yang bikin, karena tidak semua tukang gigi itu tahu di dalam mulut itu harus seperti apa, bahannya apa dan lainnya.

Selama praktik ada kejadian unik selama menangani pasien, terkait kesadaran mulut dan gigi?

Ada pasien saya yang giginya rusak sekali dan ke klinik saya menjadi pengalaman yang memang menurutnya ekstrim. Ternyata giginya rusak disebabkan karena takutnya berkunjung ke dokter gigi. Ketakutan itu berawal ketika dia berkunjung ke dokter gigi yang kasar saat kecil, dan itu menjadi trauma.  Dari cerita itulah, saya menangani pasien tersebut dengan bercerita dan ngobrol dan alhamdulillah sampai saat ini sudah sering datang ke klinik. Pasien itu mempunyai karakter yang berbeda-beda jadi sebisa mungkin kita cepat memahami apa yang diinginkan pasien namun selalu memberikan solusi yang informatif. Dengan pendekatan yang baik, pastinya pasien akan merasa nyaman dan enjoy.

Menurut dokter, sosial media cukup membantu dokter gigi atau tidak?

Saya merupakan generasi yang berada di tengah-tengah yang tidak begitu canggung dengan kemajuan teknologi, dan mulailah dengan sosial media yang saat ini cukup menjadi tren. Siapa sih orang yang tidak mempunyai handphone, dan setiap orang pasti mempunyai media sosial di handphone-nya, dan bisa dibilang media sosial itu sangat efektif untuk perkembangan kedokteran gigi dan informasi seputar kesehatan mulut dan gigi.

Harapan untuk dokter gigi di Indonesia.

Kalau saya harapannya, dokter gigi cukup banyak di Indonesia, semoga bisa memberikan dan melayani masyarakat tapi tentunya harus mengikuti teori dan terus banyak belajar, karena sekarang banyak juga yang instan, ibaratnya mau terima uang pasien tapi tidak profesional. Dokter gigi harus selalu meningkatkan ilmu, karena kita harus tahu semuanya di bidang kedokteran apapun mengingat kita ini dokter dan pasti masyarakat menganggap dokter itu tau semuanya dan itu menjadi tantangan kita untuk juga mempelajari semuanya sebagai informasi tambahan yang bermanfaat.