/Pendidikan Berkelanjutan Dokter Gigi

Pendidikan Berkelanjutan Dokter Gigi

Ilmu pengetahuan memiliki sifat yang dinamis. Ilmu yang  dinamis dapat diartikan bahwa ilmu tersebut selalu berkembang dan harus dapat beradaptasi dengan penemuan-penemuan terbaru, tak terkecuali di bidang ilmu kedokteran gigi. Calon dokter gigi ketika lulus dan dilantik menjadi dokter gigi tentu secara otomatis berhubungan dengan sifat dinamis dari keilmuan yang dikuasainya. Lulus menjadi dokter gigi hanyalah langkah awal untuk masuk ke dalam proses belajar yang seharusnya tidak akan pernah berhenti. Seorang dokter gigi baru yang memiliki anggapan bahwa ilmu yang didapatnya selama pendidikan di dalam kampus fakultas kedokteran gigi telah cukup untuk selama-lamanya pasti akan merugi dan dapat dipastikan bahwa karirnya sebagai dokter gigi sudah selesai.

Ilmu kedokteran gigi sebagai ilmu yang dinamis akan senantiasa berkembang. Ilmu kedokteran gigi yang berpusat pada pasien tentu saja akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik demi kebaikan pasien. Berbagai penelitian terus dilakukan agar semakin hari dokter gigi akan semakin mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Contoh sederhana dalam bidang teknologi bahan tumpatan. Resin komposit yang biasa digunakan dokter gigi tentu saja tidak serta merta seperti sekarang ini ketika puluhan tahun yang lalu diperkenalkan. Prinsip biokompatibilitas memaksa peneliti untuk dapat mengembangkan resin komposit menjadi lebih aman untuk jaringan pulpa, kemudian prinsip estetika menuntut resin komposit untuk dapat semakin menyerupai warna gigi asli dan masih banyak lagi prinsip-prinsip lain yang mengikutinya. Perkembangan tersebut tentu harus disambut gembira oleh sejawat dokter gigi sekalian.

Banyak cara untuk meningkatkan ilmu kedokteran gigi, salah satu cara untuk dapat selalu up to date dengan perkembangan iptek kedokteran gigi adalah dengan mengikuti seminar kedokteran gigi terkini. Seminar yang biasanya dibawakan oleh para pakar di bidang kedokteran gigi dan atau cabang ilmu lain yang relevan tersebut setidaknya akan membuka wawasan sejawat dokter gigi menjadi lebih luas. Beberapa hal yang sering menjadi alasan untuk tidak mengikuti perkembangan ilmu selain rasa malas adalah bahwa tema seminar bukan bidang yang diminati atau bagi sejawat dokter gigi spesialis sering mengatakan bahwa materi seminar bukan bagian dari disiplin ilmu yang dikuasainya. Alasan tersebut tampaknya sah dan benar tetapi perlu diingat bahwa dalam praktik sehari-hari ketika berinteraksi dengan pasien, pasien anda tidak begitu peduli apakah anda seorang ortodontis, endodontis, pedodontis dan lain sebagainya, mereka hanya tahu anda adalah seorang dokter gigi apalagi sudah bergelar spesialis maka wajib tahu segala hal. Hal tersebut didukung dengan adanya anggapan di sebagian masyarakat yang salah kaprah bahwa apabila seorang dokter gigi sudah spesialis maka dokter gigi tersebut lebih pandai dan lebih menguasai hal apapun mengenai kesehatan gigi dibandingkan dengan dokter gigi yang belum mengambil spesialisasi. Jelaslah sudah betapa pentingnya untuk membuka wawasan keilmuan walaupun bukan bidang ilmu yang diminati atau dikuasai.

Kewajiban sejawat dokter gigi untuk selalu up to date dengan perkembangan iptekdokgi juga tertuang pada persyaratan jumlah SKP (Satuan Kredit Partisipasi) yang disyaratkan kepada sejawat dokter gigi setiap kali melakukan perpanjangan STR (Surat  Tanda Registrasi). SKP yang biasanya diberikan oleh organisasi profesi untuk menilai bobot sebuah seminar yang diikuti sejawat. Berbicara mengenai SKP tentu saja ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian. Seringkali SKP justru menjadi fokus utama sebuah seminar dibandingkan dengan isi seminar itu sendiri bahkan ketika ada informasi mengenai seminar, beberapa dari sejawat ada yang terlebih dulu menanyakan jumlah SKP dibandingkan dengan isi seminar. Mengapa demikian? Hal ini tidak menafikkan mayoritas sejawat yang tentu saja memiliki niat luhur untuk benar-benar meningkatkan taraf ilmu pengetahuannya. Fokus terhadap jumlah SKP kadang merupakan sebuah akibat yang pasti ada penyebabnya. Penyebab yang paling sering dikemukakan sejawat adalah masalah jarak tempuh yang kadang harus dijangkau dengan transportasi dan akomodasi yang mahal. Bukan rahasia lagi bahwa seminar-seminar besar yang bergengsi biasanya dilaksanakan di kota-kota besar. Seminar yang terpusat di kota-kota besar tersebut tidak begitu menjadi masalah bagi sejawat yang tinggal do kota-kota tersebut atau kota di sekitarnya, namun menjadi masalah ketika sejawat tinggal di daerah yang jauh. Solusi sementara dari kondisi tersebut adalah dengan sengaja “titip” seminar kepada rekan sejawat yang benar-benar hadir dalam seminar. Kondisi geografi Indonesia yang terdiri atas banyak pulau memang akan memberikan masalah pada kemudahan akses, jika demikian mengapa tidak diupayakan untuk membuat semacam program pendidikan berkelanjutan jarak jauh yang memiliki bobot sama dengan sebuah seminar. Tentu saja pada praktiknya perlu diadakan kajian yang menyeluruh mengenai sistim baru pendidikan berkelanjutan jarak jauh, dengan terwujudnya sistim pendidikan berkelanjutan jarak jauh maka kendala jarak akan teratasi dan perkembangan iptekdokgi terbaru tetap dapat tersampaikan kepada sejawat lengkap dengan SKP yang menjadi syarat perpanjangan STR.

Penulis:  drg. Dimas Cahya Saputra, SpKG