/Perawatan Gigi, Solusi Holistic Penyembuhan Penyakit Dalam

Perawatan Gigi, Solusi Holistic Penyembuhan Penyakit Dalam

                 

 

Semua bagian tubuh merupakan suatu kesatuan dengan sistem kerja masing-masing dan fungsi yang bervariasi. Kesatuan itulah yang terkadang kita lupa bahwa sesungguhnya semua organ saling berkaitan baik dalam sistem kerja maupun penyaluran penyakit. Oleh karena itu diperlukan pula penyembuhan secara holistic atau menyeluruh untuk mengembalikan fungsi organ secara normal kembali.

Termasuk gigi dan rongga mulut yang merupakan pintu masuk makanan, udara sekaligus bakteri dan kuman. Teori infeksi fokal rongga mulut telah diusulkan sejak awal 1900an bahwa infeksi igi menyebabkan berbagai penyakit sistemik. Namun teori ini mulai ditinggalkan setelah banyak gigi telah dicabut tanpa memberikan hasil yang memuaskan. Penemuan terdahulu tidak dapat membuktikan bagaimana terapi periodontal “assisted drainage” (ADT) dapat mengurangi gejala penyakit. Penelitian terkait interaksi keradangan imunogenetik dan neurogenik yaitu mediator pro-inflamasi calcitonin gene-related peptide (CGRP), TNF-α dan vasoactive intestinal peptide (VIP) masih jarang dilakukan.

Pada majalah D&D edisi 38 yang lalu, Dr. drg. Daniel Haryono Utomo, Sp.Ort, seorang dokter gigi peneliti telah menemukan sistem masase saku gusi atau assisted drainage yang ternyata mempunyai efek luar biasa untuk mengurangi gejala dan penyakit yang berpengaruh dalam tubuh lainnya. Terapi tersebut berupa masase sulkus gingiva dalam 3 menit dengan sisi tumpul scaler manual sampai timbul keluarnya darah secara pasif. Pada disertasi dan jurnal yang sudah resmi menjadi sebuah penemuan dalam dunia kedokteran ini, mengangkat bahwa “assisted drainage” ini dapat mengurangi gejala asma dalam hitungan menit. Karena pada prinsipnya, antara gusi rahang atas mempunyai sistem saraf yang sama dengan hidung yaitu saraf maksilaris. Saraf sensoris ini berhubungan pula denga ganglion sphenopalatina (SPG) serta ganglion parasimpatis yang mengatur tonus, yaitu tegangan pembuluh darah hidung.

Pada edisi kali dokter gigi founder klinik gigi Daniel’s Holistic Surabaya ini akan menjelaskan kembali kaitan antar anggota tubuh yang dihubungkan dengan perawatan gigi dan pembenahan fungsi gigi seperti pengunyahan. Banyak gangguan-gangguan kesehatan yang terkadang kita rasakan, namun salah dalam penanganan.

Mengunyah, merupakan kegiatan yang setiap hari pasti kita lakukan sebagai proses masuknya asupan makanan. Namun, taukah Anda bahwa mengunyah harus selalu dilakukan pada dua sisi gigi karena akan berpengaruh pada kesehatan Anda? Mengunyah satu sisi dapat menyebabkan ketidakseimbangan oksigenasi aliran darah pada sisi organ lainnya sehingga menimbulkan efek kesemutan dan susah untuk digerakkan seperti efek stroke.

“Di leher itu ada saraf bernama nervus vagus yang merupakan nervus ke-10 yang fungsinya adalah meransang peningkatan asam lambung, sehingga jika otot di situ kaku, makan akan terjadi iritasi di nervus vagus dan asam lambung pun akan naik. Naiknya asam lambung menyebabkan banyak gas dan secara otomatis diafragma akan melebar dan tertekan sehingga nafas tidak akan maksimal. Kondisi tersebut akan menyebabkan kurangnya oksigen yang masuk ke kepala. Kalau sudah sampai darah, hemoglobin itu mempunyai afinitas tertentu terhadap oksien. Apabila asam lambung tinggi pasti sebagian asam akan masuk ke bagian darah, sehingga afinitas hemoglobin terhadap oksigen akan berkurang. Inilah yang kemudian menyebabkan migrain,” jelas drg. Daniel kepada tim Dental&Dental di tengah melayani pasien yang juga sedang mengalami gangguan-gangguan kesehatan tersebut.

Jika penyebab migrain bisa diakibatkan oleh kesalahan pada gigi, maka penyembuhannya pun bisa dilakukan melalui tindakan pada gigi. Berdasarkan literatur, migrain merupakan komorbiditas rinosinusitis dan asma serta melibatkan saraf trigeminus. Tata laksana migrain dalam bidang kedokteran adalah obat-obatan dan tindakan invasif seperti injeksi atau operasi pada saraf. Sangat menarik bahwa menurut laporan kasus telah dibuktikan bahwa migrain berhubungan dengan gingivitis karena suatu perawatan periodontal non invasif yang disebut sebagai terapi assisted drainage (ADT) dapat mengurangi gejala migrain dalam hitungan menit. Penelitian inilah yang sudah disusun menjadi sebuah jurnal oleh drg. Daniel untuk membuktikan bahwa ADT juga dapat diusulkan sebagai terapi ajuvan dalam tatalaksana migrain.

Dalam jurnalnya yang lain, gigi juga dapat berpengaruh pada saraf mata khususnya kasus uveitis atau mata merah. Banyak orang yang tidak tahu akan kesehatan mata bisa berakibat dari kesehatan gigi dan rongga mulut.

“Saraf trigeminal ada yang ke mata namanya ophthalmicus, ke hidung namanya maksilaris, dan ke rahang namanya mandibularis. Jadi kalau salah satu dari cabang terkena radang seperti gusi atau gigi, maka saraf yang lain lebih peka. Uveitis berhubungan juga dengan jaringan periodontal. Kita kembali ke saraf trigeminal, yaitu Nervus ke-5. Jika kita bersihkan gusi di rahang, sama saja kita akan mengurangi keradangan setempat, dan keradangan yang berlanjut melalui saraf mata pun bisa berkurang. Uveitis juga bisa diakibatkan oleh keradangan jaringan periodontal dan bruxism.  Ada satu pasien saya yang mengalami bruxism, maka terapi yang hanya pembersihan karang saja tidak akan mempan karena ada keradangan lain yang disebabkan oleh jaringan periodontal. Jadi Uveitis bisa diakibatkan oleh keradangan periodontal karena gusi, bisa diakibatkan oleh bruxism saja tanpa periodontal, atau bisa juga kombinasi. Bruxism menyebabkan keradangan neurogenic, karena lewat jalur saraf bukan lewat jalur imun. Sehingga yang terkena bisa mata atau hidung karena tingkat adaptasinya berbeda,” jelasnya lebih lanjut.

Pada intinya, suatu keseimbangan itu sangat penting di dalam tubuh dan semua sel mempunyai pro inflamasi serta mempunyai anti inflamasi. Keradangan tidak bisa hilang jika tidak ada anti radang yang mencukupi. Mungkin bisa kita bedakan antara radang dan infeksi. Infeksi merupakan keradangan yang terkontaminasi. Sebuah pukulan akan menimbulkan radang, namun jika tubuh tidak kuat melawan radang, terjadilah infeksi. Jika kita hubungkan dengan gerakan yang salah pada gigi seperti bruxism dan pengunyahan yang tidak seimbang secara terus menerus, maka tidak dapat dipungkiri bahwa anggota tubuh lain juga akan terpengaruh dan menerima efeknya melalui saraf-saraf yang berkaitan terutama saraf mata dan hidung.

“Jangan melubangi gigi dulu sebelum luarnya kita kerjakan, ”itulah yang dipesankan juga oleh drg. Daniel kepada para dokter gigi. Pembersihan dan penanganan secara menyeluruh atau holistic yang ada di dalam tubuh yang seringkali dilupakan oleh para dokter. Pembersihan karang dan pemijatan gusi bisa dilakukan sebagai solusi alternatif bagi dokter gigi untuk membantu meringankan gangguan kesehatan pasien.

Penulis: Dr. Drg. Daniel Haryono Utomo, Sp.Ort